TELAGA WARNA - Telaga Kembar yang Jelita
Mengikuti jalan yang bercabang ke kanan,menemukan sebuah jalan persimpangan lagi. Terusan jalan berpaving menuju ke Goa Semar dan sebuah jalan setapak becek. Tergugah oleh rasa ingin tahu, kami mengambil jalan tanah setapak lurus ke depan. Berloncatan di tanah licin bekas hujan tadi malam, kami berjuang keras menghindari tanah-tanah becek berlumpur hitam. Dan muncullah sebuah padang rumput luas yang mengingatkan pada film Little House on the Prairie. Meski sempat ragu, kami terus berjalan. Voila, mendadak muncul sebuah telaga lain di depan mata. Airnya sangat jernih sehingga memantulkan bayangan apa saja yang ada di atasnya. Wah, serasa ada di alam berbeda. Jalan berpaving entah ada dimana, padang rumput di sebelah sana, dan pohon-pohon tinggi di sebelah sini.
Meski terpesona dengan keindahan telaga jernih ini, namun keinginan untuk mengeksplor Telaga Warna yang konon berwarna-warni permukaannya akhirnya membawa kembali ke telaga yang pertama. Kali ini eksplorasi dilakukan dengan mengikuti jalan yang mengarah ke kiri. Di beberapa tempat nampak permukaan telaga yang menggelegak dan mengeluarkan gelembung-gelembung kecil. Ternyata kandungan sulfur di dalam airlah yang menjadi penyebabnya. Namun sayang, sejauh mata memandang, seluruh permukaan telaga tetap berwarna hijau tanpa ada sentuhan warna lainnya.
Ternyata ada trik untuk menikmati keindahan telaga ini. Di pintu belakang terdapat sebuah jalan setapak menanjak ke arah salah satu bukit yang memagari telaga. Jalan tanah ini sangat sempit, hanya cukup untuk dilewati satu orang saja. Tanjakannya memang tidak begitu terjal, namun cukup licin mengingat kawasan Dieng sering dilanda hujan. Beberapa ratus meter mendaki, sampailah di puncak bukit dengan pemandangan yang akan membuat siapa saja terpesona. Di bawah sana, telaga warna terhampar indah dikelilingi oleh rimbunnya hutan. Air di pinggir telaga berwarna ungu cantik, bergradasi dengan warna hijau di tengah, dan hijau pucat di pusat telaga. Di ujung sebelah sana, sebuah padang rumput sempit memisahkannya dengan telaga jernih yang ternyata sering disebut Telaga Pengilon atau telaga yang bisa dipakai untuk berkaca. Nun jauh di depan, barisan perbukitan dari Gunung Prau dan Gunung Pakuwaja berderet memutar, membentuk pagar betis seolah untuk melindungi dua telaga jelita ini dari siapa saja yang ingin merusaknya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar